Belajar Mandito dari Panembahan Bodho

Belajar Mandita dari Panembahan Bodho

Panembahan Bodho adalah julukan bagi Adipati Terung, ia adalah panglima perang Kerajaan Majapahit yang hebat. Ia merupakan anak kedua dari Prabu Brawijaya V (Raja terakhir Kerajaan Majapahit). Suatu hari, ada peperangan antara Majapahit dengan Demak (karena ada kesalahpahaman) dan dalam perang itu Adipati Terung membunuh Sunan Ngudung (Ayahnya Sunan Kudus). ia merasa bersalah, tapi ia juga bingung harus berbuat apa lagi.

Sunan Kalijaga yang mengetahui peristiwa itu, ia langsung bergegas mengutus 9 orang berpakaian putih dengan kuda putih dibawah pimpinan Sunan Kudus dari Demak menuju Majapahit. Tujuan dari Sunan Kalijaga sangatlah mulia, ia ingin mendamaikan dan menghindarkan perpecahan kedua belah pihak.

Sunan Kalijaga menitipkan surat untuk Prabu Brawijaya ke V yang dibawa oleh pasukan berkuda putih. Inti dari surat itu adalah bahwa Sunan Kudus sudah memaafkan dan mengikhlaskan Adipati Terung yang telah membunuh ayahnya. Lalu mengajak untuk bersama- sama menjadi pribadi yang lebih baik dan mau mempelajari islam dengan lebih mendalam.

Pihak majapahit merasa senang karena sudah dimaafkan, lalu mereka bersama sama mendirikan Kerajaan Demak. Setelah peristiwa itu, Adipati terung diangkat menjadi Panglima Perang Kerajaan Demak. Namun baru 2,5 tahun menjabat, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan melakukan mandita (menkhususkan diri) / menjadi sufi (menghindari dunia dan fokus beribadah kepada Tuhan). Ia pergi ke Terung, Krian, Sidoarjo dan menjadi Panembah (menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat) di usianya yang ke 50 tahun. Banyak orang yang heran dengan tindakan yang dilakukan Adipati Terung, karena ia melepaskan jabatan yang diidam – idamkan banyak orang dan menanggalkan semua yang ia miliki, sehingga ia dijuluki sebagai Panembahan Bodho.

Nah, jika Kita melihat kondisi di zaman ini. Begitu banyak orang yang mengincar jabatan, kehormatan, dan tahta. Segala cara dilakukan orang untuk mencukupi hal yang sifatnya keduniawian dan tidak menghiraukan sesuatu yang justru sifatnya lebih indah dan abadi. Adipati Terung menjadi sosok yang bisa kita contoh, karena setelah ia merasa cukup dengan Dunia. Ia lantas mengejar hal yang sifatnya lebih rohani dan hakiki.

About Miftakhur Riza

Pembelajar masa silam, Petarung masa sekarang, Penyiap masa depan

View all posts by Miftakhur Riza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *