Filosofi Cangkul, Pedang, dan Keris

Filosofi Cangkul, Pedang, dan Keris

Sebelum nusantara merdeka di 1945, para leluhur Kita telah berpikir keras bagaimana agar setelah Indonesia merdeka semua aspek bisa segera terpenuhi. Rezeki bagi rakyat, birokrasi / peraturan pemerintahan, dan kasepuhannya harus ada. Ketiga unsur tersebut difilosofikan dalam 3 unsur : cangkul, pedang, dan keris.

1. Cangkul

Cangkul merupakan simbol alat untuk mencari rezeki, mengolah sesuatu dan menghasilkan produk agar bisa mempunyai nilai ekonomi, terutama kebutuhan pokok. Orang yang mempunyai cangkul harus trampil dan siap bekerja keras untuk menggerakkan roda perekononian keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara

2. Pedang

Pedang merupakan simbol pusaka yang harus ditegakkan. Pedang ini harus dipegang oleh para pemimpin yang mengemban amanah dari rakyat. Harus ahli membuat regulasi agar semua sistem bisa berjalan dengan harmoni / selaras, tegak dan adil.

3. Keris

Keris bukanlah senjata, ia adalah pusaka yang berwibawa. Keris harus dipegang oleh pribadi yang sudah matang dan tidak mengejar dunia lagi. Ia adalah pawang dan sesepuh dari semua orang. Saat ada perselisihan antara cangkul dan pedang, sang pembawa keris lah yang akan menjadi penengah dan penyeimbang semuanya.

 

Fakta yang terjadi sekarang sangatlah rumit, karena banyak pemimpin yang harusnya menegakkan peraturan yang adil dengan pedangnya, justru mencari uang dengan kekuatan pedangnya.

Keris yang harusnya dipegang oleh Sufi, justru dipegang oleh orang yang masih haus dunia. Saat dimana pegang dan keris justru digabung untuk mencangkul.

About Miftakhur Riza

Pembelajar masa silam, Petarung masa sekarang, Penyiap masa depan

View all posts by Miftakhur Riza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *